
Oleh: Salwa 'Ainiyyah
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan krusial yang terus terjadi hingga saat ini. Bentuknya sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, psikis, hingga kekerasan seksual, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia digital.
Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang bulan Januari hingga April 2026 terdapat 426 laporan kasus yang melibatkan anak. Kasus terbanyak yang mendominasi adalah pelecehan seksual, dan mirisnya, rumahlah yang menjadi salah satu tempat utama terjadinya kekerasan tersebut. Sementara di ranah digital, keterlibatan anak dalam pusaran kasus judi online (judol) juga menjadi perhatian serius bagi ketahanan generasi.
Tingginya angka kekerasan terhadap anak menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebatas sebagai kesalahan individu semata. Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah melemahkan peran keimanan sebagai benteng pertahanan individu dan keluarga. Akibatnya, anak tidak lagi dipandang sebagai amanah mulia yang wajib dijaga, melainkan rentan dieksploitasi dan menjadi korban pelampiasan dari berbagai persoalan pelik yang dihadapi oleh orang dewasa.
Tekanan Ekonomi Sistem Kapitalisme
Di sisi lain, tatanan ekonomi dalam sistem kapitalisme menciptakan tekanan hidup yang sangat berat bagi banyak keluarga. Kemiskinan sistemik dan kesenjangan sosial yang ekstrem kerap menjadi pemicu utama konflik internal, yang pada akhirnya berujung pada tindakan kekerasan di dalam rumah tangga.
Negara juga dinilai belum mampu memberikan fungsi perlindungan yang menyeluruh, karena solusi hukum yang dihadirkan selama ini cenderung bersifat kuratif di hilir dan belum menyentuh akar masalah di hulu. Ditambah lagi, sanksi pidana yang diberikan kepada para pelaku kekerasan sering kali terlampau lemah sehingga belum mampu memberikan efek jera (zawajir).
Islam Menawarkan Solusi Menyeluruh
Islam menawarkan solusi yang komprehensif dan menyeluruh melalui penerapan akidah Islam sebagai fondasi utama kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Dengan pemahaman Islam yang kafah, setiap orang tua akan memandang anak sebagai amanah suci dari Allah ï·» yang wajib dijaga, disayangi, dan dipenuhi hak-hak tumbuh kembangnya dengan baik.
Selain itu, sistem ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh lapisan masyarakat secara per individu, sehingga tekanan ekonomi yang memicu stres sosial di dalam keluarga dapat diminimalkan secara total.
Dalam hal ini, negara bertindak nyata sebagai pengurus dan pelindung (raa'in) rakyat. Negara akan membangun sistem pendidikan berbasis akidah, mengontrol konten media massa agar bersih dari pornografi maupun perjudian, serta menciptakan lingkungan sosial yang kondusif guna mendukung terbentuknya generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar