MAULID NABI ﷺ: BENARKAH KITA SUDAH MENCINTAI BELIAU?


Oleh: Ai Nurhayati
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Alhamdulillah, umat Islam kembali berada di bulan yang penuh sejarah: bulan dilahirkannya pemimpin para nabi, teladan umat manusia, dan kekasih Allah ﷻ, Baginda Rasulullah ﷺ.

Pada bulan ini, banyak umat muslim memperbanyak selawat, menggelar peringatan Maulid, serta membaca dan mempelajari sirah Nabawiyah. Semua itu dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ. Namun, muncul pertanyaan fundamental: Benarkah rasa cinta itu sudah kita buktikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari?


Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Dibuktikan dengan Ketaatan

Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan manis di lisan atau peringatan tahunan. Rasa cinta sejati seharusnya melahirkan ketaatan mutlak terhadap seluruh ajaran dan syariat yang beliau bawa.

Hari ini, kita masih menyaksikan maraknya kemungkaran di tengah kehidupan publik. Dalam persoalan busana, misalnya, masih banyak muslimah yang belum menutup aurat secara sempurna sesuai ketentuan agama, seperti memperlihatkan lekuk tubuh atau mengenakan pakaian transparan. Padahal, Allah ﷻ telah memerintahkan kewajiban menutup aurat secara jelas dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).


Kemungkaran di Tengah Umat: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Di sisi lain, kasus kejahatan moral dan kekerasan seksual juga terus berulang. Baru-baru ini, terjadi kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang wisatawan mancanegara asal Italia saat berlibur di kawasan Pantai Lakey, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan laporan media digital, korban mengalami tindakan tidak senonoh di kawasan pantai, dan terduga pelaku telah diamankan oleh pihak kepolisian (Detik, 25/8/2026).

Tentu, kesalahan dan pertanggungjawaban hukum atas tindak kejahatan berada sepenuhnya pada diri pelaku. Namun, sebagai umat Islam, kita perlu melihat persoalan ini secara lebih mendalam: Mengapa berbagai kemaksiatan dan kerusakan moral masyarakat dapat terjadi dan berulang secara masif?

Begitu pula dalam persoalan kepedulian sosial terhadap nasib umat Islam global. Sebagian orang beranggapan, "Yang penting kita tenang menjalankan ibadah ritual pribadi, tidak perlu repot memikirkan penderitaan saudara kita di Palestina." Ada pula yang berprinsip, "Yang penting diri sendiri sudah saleh, tidak perlu mengajak orang lain pada kebaikan."


Islam Mengajarkan Kepedulian dan Syiar Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepedulian yang tinggi terhadap sesama muslim serta membebankan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar. Kaum muslimin diibaratkan bagaikan satu tubuh: ketika salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh bagian tubuh lainnya ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur.

Maka, ketika kondisi umat Islam hari ini tercerai-berai, kemungkaran makin merebak, serta ketidakadilan menimpa kaum muslimin di berbagai belahan dunia, kita tidak sepatutnya hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri secara individual.

Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa berbagai persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. Kehidupan masyarakat hari ini diatur oleh tatanan sekuler yang tidak menjadikan syariat Islam sebagai standar hukum dalam kehidupan publik secara utuh.


Ketika Islam Tidak Dijadikan Aturan Kehidupan

Akibat penerapan sistem sekuler tersebut, Islam sering kali hanya ditempatkan sebatas wilayah ibadah ritual individu semata. Sementara itu, tata kelola kemasyarakatan, sistem ekonomi, pendidikan, hukum pidana, hingga politik bernegara diatur menggunakan hukum buatan manusia.

Dampaknya, ketika ada kelompok masyarakat yang menyuarakan agar kehidupan kembali diatur berdasarkan syariat Islam, tidak jarang mereka justru berhadapan dengan stigma, cemoohan, hingga pengucilan.

Padahal, jika kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, bukankah seharusnya kita meneladani metode perjuangan beliau? Rasulullah ﷺ tidak hanya membina karakter individu agar menjadi pribadi yang saleh, melainkan juga membangun tatanan masyarakat dan menegakkan kehidupan bernegara berbasis Islam di Madinah.


Kesimpulan

Mari kita jadikan momentum Maulid Nabi bukan sebatas seremoni rutin tahunan. Jadikan momen ini untuk bermuhasabah dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah rasa cinta kita kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan ketaatan hukum? Sudahkah kita peduli terhadap penderitaan sesama muslim? Sudahkah kita mengamalkan amar ma'ruf nahi munkar? Dan sudahkah kita berusaha meneladani perjuangan beliau untuk menghadirkan Islam sebagai solusi tuntas kehidupan?

Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar memperingati hari kelahiran beliau, melainkan dengan memegang teguh risalahnya dan berjuang menerapkan ajaran Islam dalam seluruh dimensi kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar