
Oleh: Ha-em
Aktivis
Bulan Rabiulawal senantiasa membuat umat bersiap menyusun berbagai agenda dan perayaan untuk menyambutnya. Bulan kelahiran sosok penerang agung, Nabi Muhammad ﷺ, yang sangat dinanti-nantikan. Pada momentum ini, masyarakat berbondong-bondong merayakannya dengan menggelar majelis selawat dan bermunajat penuh khidmat.
Namun, jangan sampai semua itu hanya menjadi euforia sementara yang hilang tak berbekas atau berubah sekadar ajang perayaan belaka. Momen ini harus kita bawa agar jauh lebih bermakna. Peringatan agung ini adalah kesempatan reflektif untuk menggali dan menyelami hikmah tersirat dari kelahiran Rasulullah ﷺ.
Salah satu mutiara mulia yang jarang tersorot adalah: kelahiran beliau menandai awal dari perubahan besar dalam peradaban manusia.
Isyarat perubahan itu sangat nyata melalui berbagai fenomena besar yang mengiringi kelahiran beliau:
- Di negeri Syam, terpancar cahaya terang benderang hingga menerangi istana-istana Romawi.
- Di negeri Irak, pilar-pilar megah Istana Putih Kisra di Kota Madain retak; sepuluh menaranya bergetar dan runtuh.
- Api abadi sesembahan kaum Majusi tiba-tiba padam.
- Lembah kering Wadi Samawah mendadak mengalirkan air (Maulid al-Barzanji, Syaikh Ja'far al-Barzanji).
Peristiwa luar biasa ini bukan sekadar kejadian kosmik biasa. Isyarat ini menandakan bahwa kezaliman dan kejahatan yang menguasai manusia saat itu akan segera runtuh. Dua imperium besar peradaban dunia kala itu (Persia dan Romawi) mendapat peringatan langsung. Sejak saat itu, dunia mulai beranjak keluar dari kegelapan gulita menuju cahaya kebaikan.
The Sacred and Noble Mission
Rasulullah ﷺ lahir ke dunia untuk menyampaikan risalah terakhir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin): cahaya Islam. Seluruh hidup beliau didedikasikan untuk mengemban wahyu mulia tersebut.
Perjalanan perjuangan beliau adalah dakwah, seruan untuk pengakuan ketuhanan dan kedaulatan penuh Allah 'Azza wa Jalla. Dengan metode dakwah Islam, beliau mengubah tatanan sistem jahiliyah yang tidak adil dalam kehidupan masyarakat Quraisy. Beliau mengajarkan kita metode praktis yang beliau tempuh dalam misi menyebarluaskan seruan Islam ke seluruh penjuru dunia. Perubahan ini ditempuh melalui tiga tahapan metodologis:
- Tatsqif / Character Building: Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan pemahaman Islam yang kokoh. Perjuangan dimulai dari pembinaan akidah pada lingkaran terdekat secara sembunyi-sembunyi (dakwah sirriyah).
- Tafa'ul ma'al Ummah / Engaging with the Community: Beliau berdakwah secara terang-terangan di ruang publik: pasar-pasar dan kawasan Masjidil Haram. Bersama para sahabat, beliau menyadarkan masyarakat akan kerusahan sistem kufur dan syirik, hingga opini publik berpihak pada Islam.
- Thalab an-Nushrah / Seeking Support: Beliau berdiskusi dengan para tokoh dan pemegang kekuasaan (ahlul quwwah) untuk memperjuangkan tegaknya sistem pemerintahan berlandaskan Islam. Tahap ini berhasil dicapai secara damai di Madinah bersama dukungan mayoritas penduduknya.
Dari Madinah inilah berdiri pemerintahan Islam pertama yang menerapkan syariat Allah ﷻ secara utuh. Keteladanan ini menunjukkan bahwa perubahan sejati bukan sekadar menjatuhkan penguasa zalim, melainkan menumbangkan sistem dan akar pemikirannya, lalu menggantinya dengan tatanan Islam. Dari Madinah, peradaban Islam kian tersebar luas dan memancarkan cahaya keadilan selama berabad-abad.
Jalan Mana yang Kita Pilih?
Setelah menatap rekam sejarah tersebut, muncul pertanyaan besar: Apakah kita siap melanjutkan estafet perjuangan dan metode beliau di tengah kekacauan politik hari ini? Ataukah kita pasrah, bahkan mendukung sistem sekularisme-demokrasi yang hanya memberi janji manis tanpa bukti? Atau sekadar bertumpu pada aksi massal (people power) yang kerap berakhir anarkis dan memakan korban?
Di era modern, banyak yang meyakini perubahan politik akan terealisasi murni dari gerakan people power, meski sejauh ini tidak memiliki rekam jejak yang menyentuh akar masalah. Sejarah Indonesia pasca-Reformasi 1998 menjadi bukti: rezim Orde Baru runtuh, namun apa yang benar-benar berubah? Krisis moneter berlanjut, ekonomi dikendalikan pihak asing melalui keterikatan utang dan investasi, sumber daya alam potensial diprivatisasi oleh segelintir elite, beban pajak makin mengimpit rakyat kecil, serta pengangguran dan kemiskinan tak kunjung usai.
Bukti historis menunjukkan bahwa pergantian figur rezim semata tidak pernah cukup. Siapa pun latar belakang pemimpin yang menjabat, perantian figur hanya meninggalkan problematika baru bagi negeri selama akar masalahnya tidak disentuh: yakni tatanan sistem.
Sistem sekularisme-demokrasi menyerahkan kedaulatan pembuat hukum pada hawa nafsu manusia. Padahal Allah ﷻ secara tegas berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Keputusan (hukum) itu hanyalah milik Allah...” (QS. Yusuf: 40).
Allah ﷻ juga berfirman:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma'idah: 45).
Serta firman-Nya:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. Al-Ma'idah: 50).
Kesimpulan
Alhasil, jika kita benar-benar ingin lepas dari siklus tirani dan ketidakadilan yang berulang, jawabannya sangat jelas: meneladani thariqah nabawiyyah (metode Rasulullah ﷺ) untuk menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam naungan kepemimpinan Islam 'ala minhajin nubuwwah.
Begitulah seharusnya peringatan Maulid Nabi diarahkan: bukan sekadar seremoni emosional tahunan, melainkan sumber motivasi dan ruang refleksi ideologis untuk melakukan perubahan politik yang hakiki.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar