CINTA RASUL: ITTIBA' PADANYA


Oleh: Nafiisah Adzka
Penulis Lepas

Setiap memasuki bulan Rabiulawal, umat Islam di seluruh dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan selawat menggema di mana-mana, tabligh akbar digelar marak, hingga kemeriahan pawai di jalanan. Suasana hangat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ terasa begitu membuncah.

Namun faktanya, perayaan ini kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Kita kerap terharu hingga meneteskan air mata saat mendengar kisah sirah Nabawiyah, lalu berselawat dengan sangat khusyuk. Sayangnya, setelah perayaan usai, tatanan kehidupan kita kembali seperti semula. Pembahasan mengenai ittiba' (meneladani) Nabi ﷺ pun masih terbatas pada ranah akhlak perorangan (seperti jujur, sabar, dan dermawan. Pemaknaan tersebut belum menyentuh satu hal mendasar yang sangat krusial: kesadaran untuk mengubah sistem kehidupan jahiliyah) dari penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu menuju tatanan yang menghamba murni hanya kepada Allah ﷻ.

Padahal, dorongan untuk melakukan perubahan itu sudah lama menyeruak di tengah masyarakat. Banyak pihak merasa resah dengan ketidakadilan yang merajalela, impitan kemiskinan, dan kemerosotan moral. Sayangnya, arah dan metode perubahan yang ditawarkan hari ini masih jauh dari garis metode perjuangan Rasulullah ﷺ.


Di Mana Letak Perbesarannya?

Pertama, peringatan Maulid tereduksi sebatas ekspresi kecintaan emosional tanpa konsekuensi ideologis. Padahal Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintaan Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu...” (QS. Ali 'Imran: 31).

Cinta kepada Rasulullah ﷺ wajib dibuktikan dengan keterikatan mutlak pada risalah dan metode perjuangan yang beliau bawa, bukan sebatas lelehan air mata atau santapan nasi berkat.

Kedua, kita sering kehilangan kesadaran bahwa tatanan penghambaan kepada selain Allah ﷻ masih berlangsung secara sistemik. Penerapan sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme hari ini menjadikan materi, popularitas, dan hawa nafsu sebagai orientasi utama kehidupan. Ketinggian derajat manusia diukur dari kepemilikan harta, bukan dari kualitas ketakwaannya. Inilah wajah baru jahiliyah modern yang harus diluruskan.

Ketiga, tatanan kapitalisme-sekuler tidak akan tinggal diam. Sistem ini akan terus berupaya membungkam dan menghalangi setiap gelombang kebangkitan umat yang menuntut perubahan mendasar. Sebab, perubahan sistemik berarti mengancam eksistensi dan dominasi mereka.


Jalan Keluar dan Metode Perjuangan Kenabian

Kita harus mengembalikan makna ittiba' yang hakiki. Meneladani Rasulullah ﷺ bukan sekadar meniru tata cara makan atau gaya berpakaian beliau, melainkan keterikatan total pada syariat dan metode dakwah beliau.

Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah menyampaikan keteladanan akhlak. Beliau berjuang gigih menegakkan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah). Selama 13 tahun di Makkah, beliau membina pemikiran dan tsaqafah para sahabat. Pasca-hijrah ke Madinah, beliau berinteraksi menyadarkan masyarakat hingga menerima amanah kekuasaan untuk menerapkan hukum-hukum Islam secara utuh.

Inilah tiga tahapan metodologis perjuangan beliau yang wajib kita teladani:
  • Tatsqif: Pembinaan pemikiran Islam kepada individu agar memiliki kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) yang kokoh.
  • Tafa'ul ma'al Ummah: Berinteraksi dengan masyarakat untuk meluruskan pemikiran yang rusak serta membangun kesadaran politik umat.
  • Istilamul Hukmi: Menerima dan memperjuangkan kekuasaan politik agar syariat Islam dapat diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan bernegara.

Dengan metode inilah tatanan kehidupan Islam akan kembali tegak. Melalui penerapan syariat secara utuh, Islam akan benar-benar hadir mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).


Kesimpulan

Oleh karena itu, mari jadikan peringatan Maulid tahun ini bukan sebatas momentum rutin melantunkan selawat, melainkan ruang muhasabah mendalam: Sudah sejauh mana kita meneladani metode perjuangan Nabi ﷺ?

Selama tatanan hukum yang bertentangan dengan Islam masih tegak, maka tugas kita sebagai umat belum pernah selesai. Mari jadikan Maulid sebagai titik tolak untuk kembali pada penerapan Islam secara kafah melalui metode yang diajarkan langsung oleh pemilik hari kelahiran itu sendiri, Rasulullah Muhammad ﷺ.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar